Keutamaan Maaf

السَّـلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ الّذِىْ اَكْرَمَ مَنِ اتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ, وَاَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا. (امابعد). فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَإِياَّيَ نَفْسِ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ الله تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT bahwa hingga saat ini, Allah masih member kita kesempatan untuk menyempurnakan pengabdian kita kepadaNya, mudah-mudahan segala kekurangan dalam proses pengabdian itu diampuni oleh Allah SWT. Mudah-mudahan juga momentum hari jum’at ini semakin member kita kesadaran akan peningkatan kualitas iman dan takwa kita kepadaNya. Amin.
KETIKA manusia diciptakan, Allah mencipta juga pelbagai bentuk emosi dan keinginan dalam diri manusia yang berbentuk positif dan negatif yang saling mempengaruhi antara satu sama lain. Antara sifat positif yang terdapat dalam diri manusia ialah pemaaf, yakni lawan kepada sifat pemarah dan pendendam. Pemaaf adalah sifat luhur yang perlu ada pada diri setiap muslim. Ada beberapa ayat al-Quran dan hadis yang menekankan keutamaan bersifat itu yang juga disebut sebagai sifat orang yang hampir di sisi Allah. Allah berfirman: “Dan orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain, Allah menyintai orang yang berbuat kebajikan.” (Surah Ali Imran, ayat 132).
Namun, diakui bukan mudah untuk menjadi seorang pemaaf.Sikap negatif yang menjadi lawannya iaitu pemarah sentiasa berusaha menidakkan wujudnya sifat pemaaf dalam seseorang.Pertembungan dua unsur ini mewujudkan satu mekanisme yang saling ingin menguasai diri seseorang.
Iman dan takwa menjadi pengemudi melahirkan sifat pemaaf, manakala syaitan pula mengambil tempat mendidik sifat pemarah.Hakikatnya, syaitan sentiasa menggunakan kelemahan manusia untuk digoda dari pelbagai penjuru agar timbul sifat haiwaniah dalam diri manusia.
Definisi secara bebas Pemaaf adalah sebutan bagi seseorang yang mudah sekali memaafkan kesalahan orang lain baik itu yang disengaja ataupun tidak disengaja, sadar atau tidak sadar, besar atau kecil. Pemaaf juga bisa disejajarkan dengan sifat-sifat manusia yang lain seperti, penyabar, penyayang, pengasih dan lain-lain.
Seorang pemaaf tidak akan memilih-milah kesalahan-kesalahan mana saja yang pantas dimaafkan dan kesalahan-kesalahan mana saja yang tidak pantas untuk dimaafkan. Secara arif dia akan memaafkan semua kesalahan-kesalahan orang lain kepada dirinya tanpa syarat. Seperti sifat-sifat manusia yang lain, sifat pemaaf yang dimiliki manusia tidak datang secara sendirinya. Walaupun sifat dasar manusia itu sebenarnya adalah seorang pemaaf.
Hadirin yang Allah muliakan
Allah (swt) berfirman tentang keutamaan memaafkan:
وإن تعفوا وتصفحوا وتغفروا فإن الله غفور الرحيم
“Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (Qs. At Taghobun: 14)
Dan Allah berfirman:
وليعفوا وليصفحوا ألا تحبون أن يغفر الله لكم والله غفور رحيم
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah akan mengampuni kalian? Dan sesungguhnya Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (Qs.An Nur: 22)
Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa dengan memberikan maaf ia akan mendapatkan kemuliaan dari Allah, dan semua orang akan menghormatinya serta orang yang menjelekkan akan datang kepadanya untuk meminta maaf.
ادفع بالتي هي أحسن فإذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-oleh telah menjadi teman setia” (Qs. Fussilat: 34)
Nabi SAW bersabda:
ما نقصت صدقة من مال, وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا, وما تواضع عبد لله إلا رفعه الله
“Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan sifat memaafkan kecuali kemuliaan, serta tidaklah seorang hamba merendahkan diri karena Allah melainkan Allah meninggikan derajatnya”. (HR. Muslim)
Hendaknya seorang muslim rendah hati, lemah lembut, murah hati, bertaqwa, mudah memaafkan, dekat dengan manusia, menyintai mereka, dermawan, memberi nasehat, menyadari uzur-uzur setiap orang lain melakukan kesalahan terhadap dirinya sambil berkata: Bilamana terdapat tindakan orang lain yang menimbulkan kemarahan bagi dirinya, maka hal itu dari syetan bukan dari mereka, bahkan syetanlah yang membujuknya dan dia juga yang mendorong terjadinya hal tersebut.
Imam Ibnu Qoyyim berkata: Wahai Anak Adam!. Sesungguhnya diantara Allah dan dirimu terdapat berbagai kesalahan dan dosa-dosa yang mana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan sesungguhnya engkau senang apabila Allah mengampuni (dosa-dosa tersebut) bagimu, bilamana engkau senang jika Allah mengampuni (dosa-dosa tersebut) bagimu, maka maafkanlah kesalahan hamba-hambaNya. Bilamana engkau senang jika Allah mengampuni dosa-dosamu, maka ampunilah kesalahan hamba-hambaNya, sebab suatu balasan akan sesuai dengan jenis amal perbuatan….. jika engkau memberikan ampunan disini maka engkau akan diampuni di sana… bila engkau dendam di sini maka akan di balas di sana, bila engkau meminta hak disini maka dirimu akan dituntut di sana.
Hadirin Yang Allah muliakan
Islam telah menetapkan hak bagi orang yang didzolimi untuk membalas orang yang berbuat dzalim, yaitu sebuah kejahatan dibalas dengan balasan yang sesuai dengan tuntutan keadilan, namun memberikan ampun dan maaf tanpa terdorong untuk membelas kedzaliman dan menuntut secara terus-menerus, maka itu lebih mulia dan lebih penyayang. Allah berfirman:
والذين إذا أصابتهم البغي هم ينتصرون, وجزاء سيئة سيئة مثلها فمن عفا وأصلح فأجره على الله, إنه لا يحب الظالمين, ولمن انتصر بعد ظلمه فأولئك ما عليهم من سبيل, إنما السبيل على الذين يظلمون الناس ويبغون في الأرض بغير الحق أولئك لهم عذاب أليم, ولمن صبر وغفر إن ذلك من عزم الأمور
“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka di perlakukan dengan zalim mereka membela diri.Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka.Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di atas bumi tanpa hak.Mereka itu mendapat azab yang pedih.Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”. (Qs. As Syuro:39-43)
Maka firman Allah “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka di perlakukan dengan zalim mereka membela diri.Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa”.Merupakan pembenaran terhadap hak orang-orang mukmin dalam membela diri-diri mereka bilamana mereka dizalimi, kemudian dilanjutkan dengan meletakkan batasan yang mengikat wujud bentuk membela diri ini, yaitu sebuah batasan tidak boleh dilanggar.
Kemudian Allah memperlihatkan kedudukan ihsan bahkan memberikan semangat untuk mengerjakannya, Allah berfirman: “Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”. lalu diikuti dengan pemberitaan terhalangnya orang-orang zalim dengan tidak mendapatkan kecintaan dari Allah: “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.Setelah itu nash atau ayat kembali memberitahukan hak orang-orang yang di zalimi untuk membela diri mereka, juga memberitahukan dengan sangat akan pentingnya orang-orang zalim mendapatkan balasan di dunia dan siksa yang pedih di akhirat. Allah berfirman: ” Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di atas bumi tanpa hak.Mereka itu mendapat azab yang pedih”. Lalu ayat ini juga tidak meninggalkan untuk menjelaskan tingkatan keadilan, dimana semua pandangan secara umum tertuju kepadanya, bahkan mendorong untuk kedua kalinya kepada tingkatan ihsan dengan cara bersabar dan memaafkan, di mana dijelaskan bahwa tindakan itu teramsuk perkara diutamakan. “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.
Begitulah sifat ini diceritakan di dalam nas dengan gambaran yang sangat yang saling terkait dan berhubungan, di dalamnya terdapat penjelasan yang sangat indah dan menarik.Terlihat bahwa ayat tersebut sedang menanggulangi gelombang kejiwaan dengan sapaan yang lembut, pengarahan yang halus sambil mempertimbangkan penderitaan orang yang dizalimi, dan memandang keji dan kejam kepada orang yang zalim.Dan setelah itu ayat di atas menjelaskan tentang keberhakan orang yang dizalimi untuk membela diri mereka dengan hak, lalu kembali mendorong mereka dengan lembut untuk bersabar dan menganjurkan untuk memberikan maaf.Semua peristiwa di atas dibingkai dalam nilai keadilan dan ihsan.
Kemudian di dalam yang ayat lain, Al Qur’an menjelaskan tentang pahala bagi mereka yang memaafkan manusia di akhirat kelak:
وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين, الذين ينفقون في السراء والضراء والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس والله يحب المحسنين
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seperti seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maipun di kala sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Qs. Ali Imron: 133-134)
Hadirin yang Allah muliakan
Sesungguhnya orang-orang yang dermawan dalam memberikan maaf maka dia adalah seorang hamba, yang jiwanya mulia, semangatnya tinggi, dan memiliki sifat sabar dan santun yang besar.Dalam kacamata Islam, pemaaf adalah ciri utama dari orang sabar, maaf menjadi benteng dari tipu daya setan.Kelapangan dada, kejernihan berpikir, kerendahan hati, dan sifat maaf adalah tanda kemuliaan akhlak.Maaf menjadi pintu silaturahim, perdamaian, persaudaraan, dan ketenangan.Maaf adalah kunci surga sebagaimana sabda Nabi, ”Tidak akan masuk surga seorang yang pendendam.” (Muttafaq ‘Alaih)Dan kita juga sudah tahu bahwa dengan sifat pemaaf merupakan strategi jitu Nabi Muhammad dalam berdakwah.
Sifat Allah SWT Yang Maha Pengampun (Al Ghafur) seharusnya menjadi salah satu motivasi utama pembentuk sifat pemaaf.Sebuah syair kehambaan menyebutkan walau dosa hamba menggunung tinggi, namun ampunanNya seluas langit.Hal ini mengindikasikan keniscayaan setiap insan untuk melakukan kesalahan, yang kemudian dimarginalkan dengan luasnya pengampunan yang disediakan.Begitu pula teladan Nabi Muhaammad dan sahabat dalam hal pemaaf hendaknya menjadi motivasi kita dalam membentuk sifat pemaaf.Seperti begitu mulianya Nabi Muhammad memaafkan seorang perempuan yahudi yang hendak membunuhnya dengan racun di dalam paha kambing yang beliau makan ketika peperangan khaibar.Dan agungnyaakhlak Abu Bakr Ashiddiq memaafkan sepupunya Misthah bin Utsatsah yang turut andil dalam menyebarkan Haditsul ifki (Berita kebohongan) yang melibatkan anak kandungnya sendiri anak kandungnya sendiri ‘Aisyah.
Hadirin yang Allah muliakan…..
Sesungguhnya tanda seorang mu’min yang sholeh, mudah mema’afkan, lemah lembut, menghendaki keridoan Allah dan balasan di akhirat, adalah senantiasa membersihkan jiwanya dari egoisme dan kepentingan-kepentingan pribadinya, mengutamakan keridhoaan Tuhannya, sangat ingin diampuni dosa-dosanya, dan dima’afkan kesalahan-kesalahannya. Maka dengan demikian ia telah diberi anugrah jiwa yang dirido’i, mendahulukan balasan dimasa yang akan datang (akhirat) dari balasan di masa sekarang (dunia). Sehinggga dari sini dapat dikatakan bahwa salah satu ciri manusia yang telah diampuni dosanya adalah ketikaia mau memaafkan kesalahan – kesalahan makhluk Allah, terlebih kesalahan manusia.
Suatu ketika Uqbah bin Amir bertanya,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِفَوَاضِلِ الأَعْمَالِ فَقَالَ: يَا عُقْبَةُ صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ.
“Wahai Rasulullah SAW! kabarkan kepada saya tentang keutamaan–keutamaan sebuah amal? beliau menjawab, Sambunglah hubungan tali silaturahim dengan orang–orang yang memutuskannya, dan berikanlah sesuatu kepada orang–orang yang tidak memberimu, dan berpalinglah dari orang yang mendhalimimu“.
Dalam riwayat lain,
وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ.
“Maafkanlah orang–orang yang mendhalimimu.“
DR. A’id Al Qorni berkata di dalam salah satu makalahnya: “Hendaklah setiap orang berusaha memberikan maaf secara umum menjelang tidurnya pada setiap malam bagi setiap orang yang telah berbuat buruk kepada dirinya sepanjang siang, baik berbuat buruk dengan perkataan, tulisan, ghibah, cacian atau dengan berbagai bentuk tindakan yang menyakitkan. Dengan cara ini, seseorang akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman lahir batin serta pengampunan dari Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Memberikan maaf secara umum kepada setiap orang yang berbuat kejahatan adalah obat yang paling utama di dunia, obat ini keluar dari apotek wahyu: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik”. “Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
Mari kita berdo`a kepada Allah agar semua kita menjadi orang-orang yang pemaaf terhadap saudara-saudara kita, pemaaf untuk anak-anak kita, pemaaf untuk orang-orang sekeliling kita.Sebaliknya, dengan memaafkan saudara-saudara kita mudah-mudahan Allah akan mengampuni dosa-dosa kita juga, Amin Ya Rabbal Alamin… Ya Allah jadikanlah kami pemaaf terhadap kesalahan-kesalahan orang lain, entah itu yang disengaja atau kesalahan yang tak disengaja. Dan jadikanlah orang-orang yang telah kami dzolomi memaafkan segala kekhilafan dan kesalahan yang pernah kami lakukan pada mereka, entah itu yang kami sengaja atau tidak sengaja, baik dalam bentuk perbuatan, ucapan, atau bahkan perasaan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ.
ِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. عبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأمُرُكُمْ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإيْتَائِ ذِى القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَخْشَاءِ وَالمُنْكَر وَالبَغْى يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُم تَذَكَّرُون, فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمِ يَذكُرُكُمْ وَلذِكْرُ الله أَكْبَرْ. اقيموا الصلاة.

Perihal sugiyarto92
I am fighter, I am dreamer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: