Khutbah Jum’at

MEMBANGUN PRIBADI YANG BERTANGGUNG JAWAB

Maha besar Allah atas segala nikmat yang di limpahkan kepada kita, nikmat yang sangat banyak dan tak terhingga. Puji syukur seharusnya kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menjadikan kita orang orang yang beriman, menjadikan umat islam sebagai umat yang terbaik. Yang telah memberikan kita hidup, yang telah menyebuhkan dikala kita sakit, yang telah menutupi segala cela dan aib kita. Dia yang membuat hati kita tentram dan Dia pula yang telah menuntun kita untuk senantiasa beribadah mencari ridho-Nya. Lalu alasan apa lagi yang membuat kita sering kufur akan nikmatnya?
Nurani kita pada hakikatnya selalu membutuhkan pertolongan ALLAH, hati kecil kita senantiasa membutuhkan hidayah-Nya. Ini nampak ketika sedikit saja kita diuji dengan berbagai cobaan dari-Nya, kita seraya menyebut dan meminta pertolongan ALLAH, ketika kita di datangkan musibah oleh-Nya, kita serta merta memohon ampun, meminta dan meminta pertolongan-Nya. Lalu haruskah kita menunggu akan datangnya cobaan itu sehingga kita semua kembali beribadah dan meminta pertolongan-Nya? Maka, janganlah kita dustai fitrah dan nurani ini untuk kufur dan lalai akan Allah…..
Surat: Ar-rahman 40
Dewasa ini kita lihat dan saksikan berbagai macam kejadian yang memilukan. Entah yang terjadi di negeri kita sendiri atau yang terjadi di negara-negera lain. Yang kesemuanya itu sudah tentu mencerderai kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Kholifah yang seharusnya mampu membawa kesejahtraan, ketentraman dan kedamaian di muka bumi ini. Namun fakta yang ada membuktikan sebaliknya, bahwa korupsi semakin mewabah dari kalangan atas hingga bawah, pertikaian antar elit politik yang tak kunjung menemukan titik pangkal, hingga demonstrasi dan revolusi berdarah yang terjadi di beberapa Negara timur tengah sana. Sederet kejadian di atas tentunya menunjukan akan fakta bahwa manusia terlalu mementingan diri sendiri dan kelompoknya. Manusia masih saja terbelenggu dalam jurang kebodohan, kekejian, materialisme, egoisme dan keakuan. Dan dari sekian banyak sebab-sebab diatas yang mengakibatkan mewabahnya fenomena yang memilukan tersebut terjadi faktor dominannya adalah kurangnya rasa tanggung jawab. Kemauan dan hasrat yang tinggi untuk berkuasa dan memperoleh ambisi tak mampu diimbangi dengan tanggung jawab yang proporsional. Sehingga yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang sudah tentu merugikan orang banyak atau bahkan dirinya sendiri.
Manusia yang tidak bertanggung jawab memang telah menjadi benalu yang harus kita perbaiki bersama-sama atau kita hilangkan sama sekali. Kurangnya rasa tanggung jawab pada diri manusia telah banyak menimbulkan kerugian dan kerusakan. Kita sering melihat di sekeliling kita atau boleh jadi diri kita sendiri pernah lalai akan tanggung jawab, bahkan lebih memperhatinkan lagi kadang ada saja manusia yang memang sengaja tidak mau bertanggung jawab, lepas tanggung jawab atas apa yang ia perbuat. Padahal Allah telah mengingatkan:
Al_QIYAMAH: 36
Ketika orang lalai akan tanggung jawab, maka telah banyak orang yang telah di rugikan atas perbuatanya itu. Manusia itu hidup bermasyarakat dan dalam bemasyarakat manusia telah mendapatkan peran dan fungsi masing-masing, yang dengan itu dapat menentukan kesejahteraan, dan ketentraman kehidupan masyarakat itu sendri. Maka ketika ada satu orang saja yang lepas atau lalai tanggung jawab, sudah pasti akan merusak dan merugikan masyarakat lainya.
Islam sendiri telah dengan tegas menekankan akan pentingnya tanggung jawab karena haqiqat hidup manusia adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban. Rosulullah SAW bersabda:”
“Setiap orang dari kalian adalah pemelihara dan akan dimintai pertanggung jawabkan atas apa yang ia pelihara” (HR: Muslim )
Tanggung jawab adalah pantulan dari apa yang telah di kita perbuat. Dalam Islam, Mas’uuliyah atau tanggung jawab artinya ialah bahwa setiap manusia apapun statusnya pertama harus bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang mendorongnya dalam berperilaku, bertutur kata dan merencanakan sesuatu. Apakah perilaku itu berdasarkan akal sehat dan ketaqwaan, atau malah dipicu oleh pemujaan diri, hawa nafsu, dan ambisi pribadi. Jika manusia dapat menentramkan hati nuraninya dan merespon panggilan jiwanya yang paling dalam maka dia pasti bisa bertanggung jawab kepada yang lain. Maka kita, selaku pemimpin diri kita, pemelihara segala tindak tanduk kita, hendaknya kita arahkan semua yang ada pada diri ini kepada hal-hal yang baik. Makna konotatif dari hadits diatas adalah mengingatkan manusia untuk selalu meluruskan dirinya kepada hal hal yang positif, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak serta yang paling penting adalah agar bernilai ibadah. Shalat adalah tanggung jawab, sedekah adalah tanggung jawab, amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah tanggung jawab, dan bahkan bagaimana berfikir untuk bertindak melakukan sesuatupun merupakan sebuah tanggung jawab, apakah itu baik atau buruk?

Diakhirat nanti kita semua akan dihadapkan pada mahkamah illahi, disana tiap-tiap diri kita akan di mintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kita lakukan di dunia ini.Allah SWT berfirman:
Al-muddatsir:38
Tiap kata yang terucap, langkah kaki yang kita hentak, tangan yang kita gerakkan dan semua yang ada pada diri kita akan dimintai pertanggung jawaban kelak. Mata yang kita miliki sehingga kita dapat melihat dan mengidentifikasikan sesuatu, kemudian telinga yang kita miliki sehingga kita dapat mendengarkan kebaikan untuk ditransformasikan kedalam hati dan fisik kita, serta qalbu yang kita miliki sehingga kita dapat merasakan, memutuskan dan menjatuhkan pilihan dimana esensi manusia terletak pada qalbunya, semua ini adalah sarana yang telah dianugerahkan Allah SWT dan kelak akan di mintai pertangung jawabannya..
Dan akhirnya, marilah kita bersama sama berusaha membangun pribadi yang lebih bertanggung jawab. Tanggung jawab sebagai hamba Allah, tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi ini, tanggung jawab sebagai makhluk sosial serta tanggung jawab sebagai bagian dari keluarga. Dan hendaknya kita jangan sekali-kali untuk lari dari tanggung jawab kita sebagai makhlik ciptaan Allah karena sebenarnya kita tak kan pernah mampu lari dari tanggung jawab yang diberikan oleh Sang khaliq Allah SWT.Dia berfirman ; ( QS : yasiin ;65 )
Artinya :” Pada hari ini kami tutup mulut mereka ; dan berkatalah kepada kami tangan mereka
Dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”
Wallahu ‘alam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: