Istiqomah

Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah dan Muhammad rasul-Nya dan Islam agamanya, harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikannya dalam kehidupan. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai oleh nilai-nilai tersebut baik dalam keadaan aman maupun terancam, susah maupun senang, dimanapun dan kapanpun. Namun dalam kenyataannya, kita menyadari bahwa tidak semua orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang islam mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan. Dan jika ada yang mampu mengimplementasikannya belum tentu bisa komitmen dan istiqomah dalam memegang ajarannya sepanjang perjalanan hidupnya. Mungkin ada di antara kita kaum muslimin yang tengah berbuat, berjuang untuk mengajak umat pada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, tiba-tiba berhenti, patah semangat dan meninggalkan komunitasnya. Atau kita yang semula rajin jamaah ke masjid, tiba-tiba malas dan berat untuk melangkah ke baitullah karena memperoleh ujian hidup yang berat, terkalahkan oleh nafsu syahwat dan terperdayai oleh tipu muslihat dunia dan setan.
Maka istiqomah dalam memegang tali islam merupakan kewajiban asasi dan sebuah keniscayaan bagi hamba-hamba Allah yang menginginkan istiqomah dan harapan-harapan surga-Nya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Berlaku adillah dan beristiqomahlah, ketauhilah sesungguhnya tidak ada seorangpun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya: “Dan juga kamu ya Rasulallah, Beliau bersabda: “Dan juga aku
(tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dangan rahmat dan anugerahNya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Hadirin Jama’ah Jum’at yang Allah muliakan….
Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser,. Secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Sedangkan pengertian istiqomah menurut para salafus saleh adalah sebagai berikut:
– Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqomah ia menjawab; bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)
– Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”
– Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”
– Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”
– Al-Hasan berkata: “Istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan”
– Mujahid berkata: “Istiqomah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt”

Ibnu Rajab menjelaskan yang berkaitan tentang istiqomah tersebut dengan mengatakan: “Istiqomah adalah menempuh jalan yang lurus, yaitu agama yang tegak lurus tanpa ada kebengkokan sedikitpun baik ke kiri maupun ke kanan, yang mencakup di dalamnya semua perbuatan taat baik yang dhohir (nampak) maupun yang bathin (tersembunyi), dan meninggalkan seluruh larangan.
Ibnu Qoyim menegaskan: “Istiqomah adalah sebuah kalimat yang mencakup dan terambil dari semua cabang agama, yang mana agama tersebut tegak di hadapan Allah di atas kejujuran yang sejati dan mau memenuhi janji”.
Muslim yang beristiqomah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun, Ia bak batu karang yang tegar mengahadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia senantiasa sabar dalam memegang teguh tali keimanan. Dari hari ke hari semakin mempesona dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam. Ia senantiasa menebar pesona Islam baik dalam ruang kepribadiannya, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dia lah cahaya yang selalu menjadi pelita kehidupan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istiqomah dalam sepanjang jalan kehidupan. Allah berfirman;

Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya karena kekufutran) kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 6:122)

Jama’ah Jum’at yang Allah muliakan…
Keimanan seorang muslim yang telah mencapai tahap kesempurnaan akan melahirkan tsabat dan istiqomah dalam medan perjuangan. Tsabat dan istiqomah sendiri akan melahirkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Meskipun ia melalui rintangan hidup yang panjang, melewati jalan terjal perjuangan dan menapak tilas lika-liku belantara hutan perjuangan. Karena ia yakin bahwa inilah jalan yang pernah ditempu oleh hamba-hamba Allah yang agung yaitu para Nabi dan Rasul, generasi terbaik setelahnya dan generasi yang bertekad membawa obor estafet dakwahnya.
Hadirin yang Allah muliakan….
Kunci istiqomah adalah kekuatan kita dalam memaksa diri untuk terbiasa dan ketahanbantingan menghadapi berbagai deburan ombak masalah, ujian, dan tipu daya. Semangat untuk semua, serta langkah kecil yang dimulai dengan niat ikhlas lillaahita’ala dapat memberikan perubahan yang sungguh luar biasa. Sekali lagi, keadaan hal dan keyakinan serta realitas ‘istiqomah’ tidak akan pernah mampu kita dapatkan jikalau hanya membaca dari kitab-kitab saja. Seperti halnya keadaan suasana-suasana jiwa lainnya ;iman, khusuk, taqwa, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu adalah sebuah makom yang mesti diraih dengan sungguh-sungguh.
Istqomah bukanlah sebuah wacana, istiqomah adalah sebuah hasil pengolahan jiwa manusia ‘experience’. Keadaan jiwa yang senantiasa terlatih dalam gempuran kehidupan. Sebuah semangat totalitas untuk senantiasa bangkit dan bangkit lagi, atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat sehari-hari. Mempelajari, mengamati, kemudian menetapkan diri untuk memperbaiki kembali. Dalam keadaan dan suasana ingat Allah (Dzikrulloh).
Asal dari istiqomah adalah istiqomahnya hati, di riwayatkan oleh Imam Ahmad dari haditsnya Anas bin Malik semoga Allah meridhoinya dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda: “Tidaklah mungkin keimanannya seorang hamba (bisa istiqomah) sampai hatinya beristiqomah”. HR Ahmad dalam musnadnya 13048. Istiqomah hati, dalam hal ini senantiasa teguh dalam mempertahankan kesucian iman dengan cara menjaga kesucian hati dari sifat syirik, menjauhi sifat-sifat tercela seperti riya’ dan menyuburkan hati dengan sifat terpuji terutamanya ikhlas. Dengan kata lain istiqomah hati bermaksud mempunyai keyakinan yang kukuh terhadap kebenaran.
Istiqomah yang di tuntut dari seorang muslim juga adalah istiqomah dalam perkataan, perbuatan dan dalam setiap keinginan dan kemauananya. Dengan artian lain bahwa perkataannya seorang muslim, demikian pula amal perbuatan dan juga hatinya hendaknya seluruhnya di kerjakan di atas keistiqomahan.
Diriwayatkan dalam Musnadnya Imam Ahmad dari hadirtsnya Anas bin Malik bahwasannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bisa lurus (istiqomah.pent) imannya seorang hamba sampai hatinya lurus, dan tidak akan bisa lurus hatinya seorang hamba sampai lisannya lurus”. Istiqomah dalam berbuat, tekun bekerja atau melakukan amalan atau melakukan apa saja usaha untuk mencapai kejayaan yang di ridhai Allah. Dengan kata lain istiqomah dalam berbuat merupakan sikap dedikasi dalam melakukan sesuatu pekerjaan, usaha atau perjuangan menegakkan kebenaran, tanpa rasa kecewa, lemah semangat, atau putus asa. Sikap ini muncul karena dorongan hati yang istiqomah.

Hadirin yang Allah muliakan….
Bahwa salah satu Buah dari istiqomah di dunia adalah bisa istiqomah ketika meniti shirot (jalan) pada hari kiamat nanti. Imam Ibnu Qoyyim mengatakan, “Barangsiapa yang telah diberi hidayah di dunia ini kepada shirothol mustaqim (jalan yang lurus) oleh Allah Azza wa jalla yang mana Allah Ta’ala telah mengutus para rasulNya dengannya dan menurunkan bersama mereka kitab-kitabNya, maka dengan sebab itu dia akan diberi hidayah pula ketika meniti shiroth yang akan mengantarkan kepada surgaNya dan negeri balasan. Dan ketetapan seorang hamba di atas shiroth (jalan yang lurus) ini di dunia akan menjadikan tetapnya dia ketika melewati shiroth yang berada di atas neraka jahanam di akhirat nanti sesuai dengan kadar amalannya, seberapa besar perjuangan dan pengorbanannya didalam (menempuh) jalan istiqomah ini (ketika didunia) maka sebesar itu pula pertolongan yang diberikan ketika melewati shiroth di akhirat nanti sehingga di antara mereka ada yang melewatinya secepat kilat, di antara mereka ada yang melewatinya seperti kedipan mata, di antara mereka ada yang melewatinya secepat angin, ada yang seperti orang yang naik kendaraan, ada yang seperti orang yang berlari, ada yang seperti orang yang berjalan kaki, dan ada di antara mereka yang merangkak, ada yang tersambar oleh api neraka dan ada yang terjatuh kedalamnya, maka seorang hamba dalam melewati shiroth sesuai kadar ia di dalam menjalani shirotol mustaqim di dunia sebagai balasan yang setimpal, Allah Ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: {هَلۡ تُجۡزَوۡنَ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٩٠} [النمل: 90]
Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan“. QS an-Naml: 90

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: