Agama Islam

AGAMA ISLAM
Agama Islam adalah agama terakhir yang paling baik dan paling benar. Tidak terdapat kekurangan dan kesalahan sama sekali dalam berbagai aspeknya. Dan kita tidak akan memperpanjang pembicaraan tentang pengertian agama Islam di sini, karena itu sudah dapat dipahami dan diketahui oleh para pembaca. Dan di sini kita akan menerangkan dasar-dasar dan kelebihan-kelebihannya sebagaimana berikut:
1. Dasar Pertama
Yakni menyeru kepada makhluk yang berakal agar percaya terhadap keberadaan Allah SWT dan mengesakan-Nya. Dengan tidak hanya menyuruh mereka untuk percaya begitu saja dengan taklid buta, akan tetapi menyuruh mereka untuk melihat seluruh alam semesta, serta memakai akal mereka dengan benar dengan cara kembali memperhatikan seluruh alam semesta dengan segala keteraturannya, sehingga dapat terbesit dalam diri mereka bahwa alam semesta ini pasti ada penciptanya dan pasti ada keberadaan-Nya. Maha mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Kuasa. Dan bahwa Pencipta itu hanyalah satu tanpa ada sekutu bagi-Nya sebagaimana satunya keteraturan alam semesta ini. Allah berfirman:
          ( الأعرف  ) وقال تعالي :
         (يس : ) وقال تعالي :          •    (الروم : ) وقالي تعالي :                (الأنبياء :) وقالي تعالي :                          (المؤمنون :  )

2. Dasar Yang Kedua
Menyeru untuk percaya kepada risalah nabi Muhammad SAW. Islam menguatkan dakwah ini dengan sesuatu yang di luar kekuasaan manusia, serta mutawatir (benar) keberadaannya , yakni Al-Qur’an Al-Karim sebagai bukti bahwa ia adalah mukjizat yang di luar kekusaan manusia. Yang menunjukkan bahwa yang mewahyukannya adalah Allah semata dan bukan merupakan hasil karangan manusia biasa. Karena Al-Qur’an sendiri dibawa oleh seorang yang Ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Tidak mempelajari kitab dan ilmu apapun. Al-Qur’an turun melalui jalan yang satu, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang sesat. Dilengkapi dengan pedoman hidup bagi siapa saja yang mendapat petunjuk dan untuk menyelamatkan mereka dari kerugian yang nyata. Allah berfirman :
     •                (البقرة: ) وقالي تعالي :               (النساء: )
3. Dasar Ketiga
Memperhatikan dan mengmbil hikmah dari sunatullah yang terdapat pada ciptaan-Nya. Islam menjelaskan bahwa di seluruh umat dan alam semesta ini terdapat sunatullah yang tidak tergantikan. Pada setiap sunah-sunah itu ada jalan (peraturan) yang tetap, yang berlaku dengan kesesuaian. Yang kemudian disebut dengat syari’at-syari’at, atau ketetapan-ketetapan, atau undang-undang. Allah SWT berfirman:
             ( ال عمران : ) وقال تعالي : •          •   (الإسراء :  )

4. Dasar Keempat
Kasih sayang terhadap orang-orang yang berbeda dalam akidah. Islam datang dengan tidak menyuruh anak untuk berpisah dengan kedua orang tuanya yang berbeda keyakinan. Akan tetapi Islam menyuruh orang seorang anak yang muslim untuk bergaul dengan kedua orang tuanya yang musyrik itu dengan baik di dunia ini dengan tetap menjaga keyakinan agamanya. Allah SWT berfirman :
                  (لقمان :  
5. Dasar Kelima
Keseimbangan antara kemaslahatan dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman :
                   (القصص : ) وقال تعالي :                (الجمعة :  )
Hal-Hal Terpenting Yang Terdapat dalam ayat-ayat al-qur’an
1. Tauhid dan menolak segala bentuk berhala dan tuhan-tuhan lainnya. Sehingga tidak ada perantara antara hamba dan Tuhannya. Allah berfirman :
                      
)النساء :  )
2. Ketetapan hari akhir, dimana setiap manusia akan dibalas sesuai dengan perbuatannya. Apabila baik maka akan dibalas dengan kebaikan pula, dan apabila jahat maka dibalas dengan kejahatan pula. Allah berfirman:

              (الزلزلة )

3. Ibadah-ibadah amaliyah yang mengikat mereka dengan Allah SWT dan yang membimbing mereka kepada kebaikan, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.
4. Menolong (menepati) segala bentuk perjanjian dan mencela siapa saja yang lepas atau tidak menepati janji. Allah berfirman :
   •    (الإسراء :)

5. Perintah untuk berperang, akan tetapi tidak diperintahkan kecuali hanya untuk melindungi agama Islam dan demi memberikan keamanan dalam berdakwah. Supaya tidak terjadi perpecahan dan fitnah. Allah berfirman :
                 (الأنفال: وقال تعالي :               (البقرة :  )
6. Perintah untuk mempelajari berbagai macam ilmu yang ada di alam semesta ini. Seperti ilmu jiwa, ilmu tumbuhan (botani), zoology, ilmu alam (fisika), kimia, kedokteran, ilmu falak, sejarah, geografi dan lain sebaginya. Allah SWT berfirman: 
      (يونس : ) وقال تعالي :                       (الغاشية )
7. Perintah untuk hemat (ekonomis), juga perintah untuk bekerja dalam mencari rizki. Allah SWT berfirman:
  • (الإسراء : ) وقال تعالي :          (الملك :  )

8. Keterangan tentang syari’at-syari’at (adab) kemasyarakatan yang mencakup tiga macam:
1. Yang berkaitan dengan rumah (keluarga). Yakni tentang peraturan-peraturannya, seperti pernikahan dan menjaga hubungan antara suami istri. Juga dengan memperhatikan hal-hal kewaritsan dan anak-anak yatim.
2. Yang berkaitan dengan pergaulan antara sesame masyarakat. Seperti larangan terhadap praktek riba dan memakana harta orang lain dengan bathil. Juga keharusan untuk menulis tentang hutang piutang dan adab izin untuk memasuki rumah. Dan larangan terhadap perempuan untuk memperlihatkan perhiasan dan aurat mereka, kecuali apa yang memang layak terlihat. Dan perintah untuk menghormati yang lainnya. Yang kesemuanya itu merupakan adab pergaulan yang dapat menumbuhkan dan menyempurnakan kasih sayang sesama manusia.
3. Apa-apa yang berkaitan dengan qisas, hudud, dan memerangi para perampok. Firman Allah SWT :

   • • •           (الماءدة :  )
Seperti had zina, had orang yang menuduh orang lain berzina, had pencuri dan had perampok. Dan ini semua hanya sebagian kecil dari nidzom (peraturan) yang Allah tetapkan dalam kitab-Nya untuk menjadi pedoman dan dasar bagi kaum muslimin dalam beramal dan berbuat.

Kelompok-Kelompok Islam
Ilmu agama mencakup yang pokok (ushul) dan yang cabang (furu’). Furu’ adalah yang berkaitan dengan masalah fiqhiyah dan berkaitan juga dengan ibadah dan mu’amalah. Sedangkan ushul adalah tentang aqidah yang berkaitan dengan Allah SWT, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Dan para sahabat radliallahu ‘anhum berkeyakinan bahwa sifat-sifat Allah ta’ala adalah seperti yang Dia sifatkan dalam al-qur’an dengan segala sifat kesempurnaan, dan mensucikan-Nya dari hal-hal yang tidak pantas bagi keagungan-Nya dari sifat-sifat yang kurang. Sebagaimana pula mereka mensucikan-Nya dari musyabihah (memisalkan-Nya) dengan makhluk ciptaan-Nya. Allah SWT berfirman : الرحمن علي العرش استوي
Dan mereka juga menhindari takwil terhadap ayat-ayat mutasyabihat dalam al-qur’an. Seperti firman Allah SWT:يدالله فوق أيديهم
Mereka berkeyakinan bahwa makna ayat itu tidak dapat dipahami secara lafadz semata. Sehingga mereka menyerahkan hakikatnya kepada Allah SWT. Dengan demikian, para ulama salaf menempuh jalan ini dalam ayat mutasyabihat. Kemudian setelah itu umat muslim memperdalam ilmu-ilmu agam lainnya dan diantaranya adalah ilmu usuluddin (ilmu kalam dan tauhid). Mereka menggunakan dalil-dalil naqli dan ‘aqli dalam pembelajaran mereka. Akan tetapi ternyata banyak perbedaan dalam beberapa pandangan dan kemudian menempuh jalan yang berbeda. Ada diantara mereka yang mengambil jalan tengah, ada juga yang melampaui batas, dan bahkan ada pula yang sangat melampaui batas (ekstremis). Sehingga kemudian terpecah menjadi beberapa kelompok yang banyak dan yang terbesar diantaranya ada 3:
a. Ahlusunnah b. Mu’tazilah c. Syi’ah

1. Ahlusunnah
Mereka adalah kelompok mayoritas muslim dan terbagi lagi ke dalam 3 kelompok:

1. Ahlu Atsar, mereka adalah pengikut Imam Ahmad ibnu Hanbal. Mereka menggunakan dalil alqur’an dan hadits dalam penyelesaian berbagai masalah. Dengan kadang-kadang menggunakan dalil ‘aqli. Mereka juga tidak mentakwilkan ayat-ayat mutasyabihat dan mengembalikan maknanya kepada Allah SWT sebagaimana yang dilakukan ulama salaf. Akan tetapi pengikutnya yang terakhir terjebak dalam kejumudan dalam memahami lafadz ayat-ayat mutasyabihat, sehingga mereka disebut kaum mujassamah.

2. Asya’irah, imam mereka adalah Abu Hasan Al’asy’ari. Mereka menggunakan dalil naqli dalam menetapkan berbagai masalah dengan terlebih dahulu melihat dalil naqli. Mereka juga menjauhi takwil ayat-ayat mutasyabihat.

3. Maturidiyah, Imam mereka adalah Abu Mansur Al Matrudi. Dan cara mereka dalam menetapkan keyakinan (keputusan) adalah seperti cara Asy’ari. Tidak ada perbedaan yang besar antara keduanya. Mereka banyak bersepakat dalam masalah pokok, sedangkan perbedaanya hanya di sebagian cabang-cabangnya saja.

Akan tetapi pengikut terakhir dari kedua kelompok ini telah melakukan pentakwilan terhadap ayat mutasyabihat. Mereka menentukan makna dari ayat-ayat tersebut sebagaimana tidak dilakukan oleh ulama salaf. Seperti dalam firman Allah : الرحمن علي العرش استوي
Mereka mengatakan bahwa itu adalah perumpamaan dan gambaran atas keagungan Allah dan kekuasaan-Nya atas makhluk-Nya. Demikian pula dengan ayat-ayat mutasyabihat lainnya.
2. Al Mu’tazilah
Kelompok ini muncul ketika terjadi perdebatan tentang siapakah pelaku dosa besar, apakah ia mukmin atau bukan mukmin ? Sebagaimana Hasan Al-Bishri dan beberapa kelompok dari tabi’in mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah munafik, karena perbuatan mencerminkan hati, dan perkataan (lisan) bukanlah bukti dari keimanan. Sementara Washil bin ‘Atho berbeda pendapat dalam hal ini dengan Hasan Al Bishri, bahwa pelaku dosa besar bukanlah mukmin dan bukan kafir, akan tetapi berada di suatu tempat diantara kedua kedudukan itu. Kemudian Washil memisahkan diri dari majlis Hasan Al Bishri dan mengadakan majlis yang lain dalam satu masjid. Dan dari sinilah kelompok ini disebut dengan golongan mu’tazilah, dan itu diambil dari kata “ ‘itazala”
Mu’tazilah adalah kelompok besar dari kaum muslimin yang selalu berbeda pendapat dengan ahlussunnah dalam banyak permasalahan ilmu kalam dan imamnya adalah Wasil bin ‘Ato. Perbedaan paling mendasar diantara ahlusunnah dan mu’tazilah adalah bahwa ahlussunnah menggunakan nas-nas al-qur’an an hadits-hadits sahih dan diikuti dengan menggunakan petunjuk akal. Sedangkan mu’tazilah menggunakan pemikiran (akal) dan takwil dalil-dalil naqli dan dibantu dengan ilmu-ilmu filsafat Yunani yang telah mereka pelajari.
Lima pokok ajaran dasar dalam Mu’tazilah
1. Tauhid
2. Keadilan
3. Janji baik dan janji buruk
4. Satu kedudukan diantara dua kedudukan
5. Amar ma’ruf dan mnahi munkar

3. Syi’ah
Dalam syi’ah terdapat kelompok-kelompok yang banyak, 3 diantaranya :
1. Al Ghalah
Mereka telah beranggapan bahwa dalam diri Ali terdapat sifat-sifat ketuhanan dan mereka mensifati Ali dengan sifat kenabian. Mereka telah kafir dengan jelas.
2. Rafidlah
Mereka berkeyakinan bahwa Ali adalah Imam yang benar setelah Rasulullah SAW dan bahwa Ia telah mewasiatkan kepada Ali khilafah, dan ia telah didzolimi dan dirampas haknya. Sehingga membenci Abu Bakar dan Umar RA. Dan ini termasuk kesalahan dan dosa yang nyata.
3. Mufadlolah
Mereka adalah yang mengakui keutamaan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Namun mereka juga mengakui kepemimpinan mereka dan keadilam mereka. Dan tidak memisahkan diri dari mereka. Mereka berbeda pendapat dengan sebagian golongan kaum muslimin yang mengakui keutamaan Abu Bakar dan Umar atas Ali. Akan tetapi mereka tidak melampaui batas sebagaimana golongan Rafidlah.
Dan ada pula kelompok yang lain seperti kaum khawarij. Mereka adalah orang-orang yang keluar dari golongan Ali ketika terjadi abitrase. Dan mereka pun terbagi ke dalam kelompok-kelompok lagi. Mereka mengatakan bahwa mereka terlepas dari Utsman dan Ali. Dan pendapat mereka terhadap pelaku dosa besar adalah kafir. Sedangkan Murji’ah mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah sesungguhnya ia akan ditangguhkan dan diserahkan kepada Allah SWT sampai hari kiamat nanti. Mereka berkata : “ Sesungguhnya dosa tidak membahayakan selama masih beriman sebagaimana tidak bermanfaatnya ketaatan dalam kekafiran”. Dan mereka banyak sekali kesamaan pendapat-pendapatnya dengan pendapat mayoritas ulam sunni. Dan bahkan pendapat mereka pula mencerminkan pendapat mayoritas golongan muslim. Mereka berkata : “Sesungguhnya pelaku dosa besar adalah mukmin yang mendurhakai Allah, dan kesemuanya itu diserahkan kepada Allah apabila dikehendaki akan diazab sesuai dengan dosanya atau jika dikehendaki akan diampuni”
Kemudian terdapat pula kelompok lain yang telah benr-benar melampaui batas dan teleh keluar dari agama Islam, seperti satu kelompok dari golongan Khawarij yang mengatakan bahwa shalat adalah satu raka’at (shalat) di waktu pagi hari dan satu Raka’at di sore hari saja. Dan ada pula dari golongan ahlussunnah yang mengatakan bahwa boleh jadi dalam diri orang-orang yang shaleh ada yang lebih utama dari para nabi dan malaikat, dan barang siapa yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya makrifat maka gugurlah segala amal dan syari’at-syariat. Dan sebagian mereka berkata dengan adanya hulul ( peleburan ) sang pencipta dalam tubuh ciptaan-Nya.

Madzhab-Madzhab Dalam Islam
Timbulnya madzhab-madzhab dalam Islam adalah disebabkan oleh ikhtilaf para mujtahid dalam masalah-masalah furu’iyah yakni masalah-masalah ibadah yang berkaitan dengan ibadah dan mu’amalah. Akan tetapi perbedaan mereka tidak terdapat dalam hukum-hukum syariat secara umum dan apa-apa yang telah ditetapkan dengan jelas dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Perbedaan mereka hanya terdapat pada masalah cabang-cabang furu’iyah dari hukum-hukum yang umum tadi.
Sebab-sebab perbedaan pandangan mereka banyak sekali, dan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Bahwa nash-nash (dalil) mungkin tidak terlalu jelas dan rinci. Sehingga menyebabkan pemahaman para mujtahid menjadi berbeda.
2. Bahwa nash (dalil) yang diambil dari sunnah ada yang belum sampai kepada sebagian mujtahid sehingga mereka ada yang tidak membenarkan salah satu sunah tersebut.
3. Bahwa sebagian mujtahidin ada yang menggunakan qiyas jika penyelesaian tentang suatu masalah tidak terdapat dalam nash-nash (al-Qur’an dan as-Sunnah). Dan sebagian lainnya tidak menggunakan qiyas sama sekali.

Madzhab-Madzhab Yang Terkenal dalam Islam
Diantara yang terkenal itu ada empat, yakni : Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sedangkan dari golongan ahlusunnah adalah :
1. Madzhab Imam Laits; 2. Madzab Imam Al-auza’i; 3. Madzhab Daud Adzahiri. Dan yang membedakannya adalah mereka tidak melakukan qiyas dan berhenti pada lafaz ayat-ayat dan Hadits (tidak melakukan takwil).
Dan dari golongan Syiah terdapat aliran-aliran yang bermacam-macam pula, dan diantaranya adalah :
1. Madzhab Zaidiyah, mereka adalah pengikut Zaid bin Ali bin Husain. Sumber dan landasan hukum bagi mereka adalah dari al-qur’an, sunah, serta ijma’. Dan pendapat mereka mendekati pendapatnya ahlussunnah.
2. Madzhab Imamiyah, landasan hukum bagi mereka adalah al-qur’an, sunnah, serta fatwa-fatwa para pemimpin mereka. Mereka tidak membenarkan ijma’ sebagai hujjah dalam agama dan juga tidak melakukan qiyas.
Jama’ah Ahmadiyah
Mereka adalah Pengikut Mirza Ghulam Ahmad, lahir di desa Qodiyan di daerah Punjab. Ia keturunan pejabat (pemerintah) yang tunduk pada pemerintah Inggris. Dan setelah ayahnya wafat ia menuju gunung untuk beribadah sendiri. Sebagaimana kebiasaan orang-orang Hindu di negrinya. Di sana ia berfikir panjang tentang keadaan kaum muslimin yang menjadi nasrani. Yang diebabkan oleh para misionaris Kristen yang tersebar di seluruh negrinya. Kemudian setelah itu muncul pengakuan serta keyakinan-keyakinan yang dibawanya, seperti diungkapkan dalam hal-hal berikut :
1. Ia memproklamirkan diri sebagai Imam Mahdi dan Isa almasih yang ditunggu-tunggu. Sesuai dengan keyakinannya bahwa imam Mahdi dan Al Masih adalah satu orang yang sama. Kemudian ia menetapkan bahwa Isa Al masih telah benar-benar wafat. Dia menggunakan dalil dengan firman Allah SWT :
            
Kemudian dikubur di desa Kashmir, negri Hindustan. Setelahnya ia ( Isa ) disalib di Yerussalem ia melarikan diri ke daerah Kashmir. Dan sesudah ia menyatakan bahwa Isa telah benar-benar mati maka dengan mudah ia mengaku bahwa dialah Al Masih yang ditunggu di akhir zaman. Bukan Isa bin Maryam yang telah mati.
2. Ia menyatakan bahwa dajjal yang tersebut dalam hadits adalah mereka para misionaris Kristen yang telah memurtadkan kaum muslimin baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
3. Ia mengaku bahwa dirinya adalah nabi dan rasul, dengan merujuk pada ayat al-Qur’an. Bahwa makna dari “khotamunnabiyyin” dalam ayat:
ما كان محمد أباأحدمن رجالكم ولكن رسول الله و خاتم النبيين وكان الله بكل شيء عليما. الأحزاب :40
Ia menyatakan bahwa khotamiyyah di sini adalah bukan makna makna majasi, atau yang dimaksud “khotamun” dalam ayat ini artinya adalah sesuatu yang terbuat dari perak atau emas. Dan kemudian ia menetapkan khotmiyah (penutup para nabi) yang benar adalah untuk dirinya.
4. Dan ia telah banyak memuji-muji dirinya sendiri, bahkan ia mengagungkan dirinya sendiri lebih dari nabi Muhammad SAW. Walaupun ia mengaku bahwa ia juga dibawah bendera (petunjuk) nabi Muhammad.
5. Ia menjelaskan bahwa dirinya mempunyai hak dan kebebasan dalam menerima hadits-hadits nabawiyah, atau menolaknya apabila bertentangan dengan pendapatnya.

Al Qodiyaniyah (Ahmadiyah Qodian) Dan Lahoriyah (Ahmadiyah Lahore)
Semasa Mirza Ghulam Ahmad masih hidup para pengikutnya telah sepakat bahwa ia adalah nabi dan rosul, dan ia juga al masih yang dijanjikan dan imam Mahdi yang ditunggu. Dan setelah ia meninggal dunia maka terpecahlah pengikutnya ke dalam dua kelompok, yakni : Qodiyaniah dan Lahoriyah.
Qodiyaniah adalah mereka yang masih meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, rasul, dan ia adalah almasih dan Imam Mahdi yang dijanjikan. Sedangkan Lahoriyah adalah mereka yang mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah serang pembaharu dan muslih (orang yang memperbaiki ) besar, mereka menafsirkan perkataan Mirza Ghulam Ahmad yang menerangkan ia nabi dan rasul, bahwa ia hanyalah seorang pembaharu seperti seorang nabi dan rasul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: