Dakwah di Asia Tenggara

BAB I
PENDAHULUAN
Asia Tenggara dianggap sebagai wilayah yang paling banyak memeluk agama Islam. Apalagi pulau-pulau yang terletak di sebelah Timur India sampai lautan Cina dan mencakup Indonesia, Malaysia dan Filipina. Islam masuk ke Asia Tenggara melalui dakwah yang damai dan bukan dengan peperangan. Islam masuk melalui orang-orang Arab Hadramaut, yang dikenal dengan syarif (gelar untuk keturunan Rosulullah).
Sejarah mencatat hijrahnya para Syarif Hadramaut ke Asia tenggara dengan macam-macam hijrah yang berbeda-beda. Di antaranya hijrah karena lari dari kerasnya kehidupan dan kezaliman penguasa. Sebagian lagi mencari keselamatan dari peperangan. Hijrah mempunyai pengaruh yang besar dalam penyebaran Islam. Setelah menetap di daerah-daerah yang baru, mulailah dakwa Islam disebar luaskan, mereka menerima Islam dengan hati yang terbuka. Kemudian mereka memeluk Islam dan menjadi pembela-pembelanya.
Setelah berakhir hijrah ke tempat tinggal mereka yang baru. Mereka biasanya berbaur dengan masyarakat dimana mereka tinggal, sebagaimana yang terjadi pada Imam Muhammad bin Ali Uraidhiy dan anak-anaknya yang hijrah dari Madina ke Basrah. Para Syarif Hadramaut menyebarkan dakwah Islam di Asia Tenggara melalui dua hijrah. Yang pertama, arqa Syarif yang datang pada masa Bani Umayah karena lari dari Iraq, setelah penindasan Bani Umayah terhadap Alawiyin. Tujuan mereka adalah pulau-pulau Filipina. Kedua,hijrah kedua mempunyai pengaruh besr dalam penyebaran Islam ke sebagian Asia Tenggara.
Hijrah ini sampai ke Asia Tenggara ada dua tahap yaitu, tahap pertama hijrah ke India. Kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari hadramaut ke Asia Tenggara melalui pesisir India. William Langer mengatakan, kerajaan Majapahit pada abad ke-14 mampu mendirikan kerajaan perdagangan yang kekuasaannya meluas sampai ke Brunei, Sumatera, pulau-pulau Filipina dan Semenanjung Melayu, tetapi antara taun 1405-1407 M dengan cepat kesultanan Islam Arab dapat menempati tempat Mahajapahit pada abad ke-15. Perjuangan Islam meluas dari keduduknnya yang utama di Maaka ke seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara.secara resmi sekitar 20 kerajaan-kerajaan kecil memeluk Islam.

BAB II
PEMBAHASAN
INDONESIA
Masuknya Islam ke Indonesia, yang menurut sebagian orang diperkirakan pada abad ke-13 M, telah menandai perubahan besar dalam khazanah kebudayaan di bumi Nusantara. Agama Islam yang dibawa para imigran Arab juga turut mempengaruhi penggunaan bahasa dalam pergaulan sehari-hari.
Sejarah masuknya Islam ke Indonesia terbagi atas lima babak penting yang perlu diperhatikan secara historikal.
1. Periode Pertama Abad 7 Masehi.
Menurut Zainal Arifin, agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7 Masehi (684 M) yang dibawa oleh seorang pemimpin Arab ke Tiongkok dan sudah mempunyai pengikut dari Sumatra Utara. Jadi menurut beliau, Islam sudah masuk pertama kali ke Indonesia yakni di Sumatra Utara. Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan Hamka, bahwa Islam masuk ke Indonesia pada tahun 674 M.
2. Periode kedua, Abad 13 Masehi
Pada masa ini kerajaan-kerajaan Islam sudah mulai berdiri, seperti Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Selanjutnya kerajaan Majapahit. Pada masa ini perkembangan Islam semakin meluas hingga ke penjuru tanah jawa dan menyebar ke pulau-pulau lain, seiring dengan jayanya masa kerajaan Demak dan Majapahit.
3. Periode ketiga, Masa kolonial Belanda
Sekitar abad 17 Masehi, tepatnya tahun 1601, kerajaan Hindia Belanda mulai mendatangi dan menguasai hampir segenap wilayah Indonesia. Walaupun pada awalnya kedatangan mereka hanya untuk berdagang.
4. Periode keempat, Abad 20 M
Sekitar awal abad 20 Masehi, pemerintahan Hindia Belanda mulai melakukan politik balas budi yang sebenarnya bagi Belanda merupakan politik untuk mempertahankan kekuasaannya. Politik balas budi ini memberikan kesempatan dalam pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia untuk mensosialisasikan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Quran dan Hadits.

5. Periode kelima, abad 20 dan 21 Masehi
Lepas dari penjajahan Belanda, Indonesia kembali terus terkungkung dalam gengaman penjajah lainnya, yakni pemerintahan Jepang yang meneruskan strategi Belanda. Pada masa ini, penduduk Indonesia semakin dibatasi ruang geraknya, terutama kaum muslim.
Proses Penyebaran Islam di Indonesia
Ditinjau dari letak geografisnya, wilayah Indonesia terletak kawasan Asia Tenggara. Masyarakat di wilayah ini telah mempunyai peradaban yang tinggi sebelum kedatangan islam. Hal demikian dikarnakan kawasan Asia Tenggara terdiri dari Negara-negara yang memiliki kesamaan budaya dan agama. Negara-negara ini, termasuk Indonesia telah memiliki kontak dengan peradaban bangsa India dan Cina. Tidak hanya dalam aspek peradabannya saja, tetapi juga adat istiadat, agama dan kepercayaan.
Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai.Proses penyebaran agama islam di Indonesia dilakukan dengan banyak cara.yaitu melalui perdagangan , perkawinan, pendidikan, politik, kesenian, tasawuf, yang kesemuanya mendukung meluasnya ajaran agama islam.
1) Perdagangan. Pada abad ke-7 M, bangsa Indonesia kedatangan para pedagang islam dari Arab, Persia, dan India. Mereka telah ambil bagian dalam kegiatan perdagangan di Indonesia. Hal ini konsekwensi logisnya menimbulkan jalinan hubungan dagang antara masyarakat Indonesia dan para pedagang islam. Di samping berdagang, Sebagai seorang muslim juga mempunyai kewajiban berdakwah maka para pedagang islam juga menyampaikan dan mengajarkan agama dan kebudayaan islam kepada orang lain. Dengan cara tersebut, banyak pedagang Indonesia memeluk agama islam dan mereka pun menyebarkan agama dan budaya islam yang baru dianutnya kepada orang lain. Dengan demikian, secara bertahap agama dan budaya islam tersebar dari pedagang Arab, Persia, India kepada bangsa Indonesia. Proses penyebaran islam melalui perdagangan sangat menguntungkan dan lebih efektif di banding cara lainnya. Apalagi yang terlibat dalam perdagangan bukan hanya dari golongan masyarakat bawah, melainkan juga golongan kelas atas seperti kaum bangsawan atau raja.
2) Perkawinan. Para pedagang muslim melakukan aktifitas perdagangan dalam waktu yang cukup lama. Banyak dari mereka yang tinggal dalam waktu yang cukup lama dalam suatu daerah. Keadaan inilah yang mempererat hubungan mereka dengan penduduk pribumi atau dengan kaum bangsawan pribumi. Hubungan komunikasi yang baik ini tidak jarang diteruskan dengan adanya perkawinan antara putri kaum pribumi dengan para pedagang muslim. Lambat laun terbentuk masyarakat muslim dengan adat islam hingga suatu saat terbentuknya sebuah Kerajaan islam. Misalnya, perkawinan Raden Rakhmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, perkawinan antara Sunan Gunung Djati dengan Putri Kawungaten, perkawinan antara Raja Brawijaya dengan putrid Jeumpa yang beragama islam kemudian berputera Raden Patah yang pada akhirnya menjadi raja Demak.
3) Politik. Seorang raja tentu saja mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar dan memegang peran yang penting dalam proses Islamisasi. Pada saat seorang raja memeluk agama islam, maka rakyat juga akan berbondong-bondong mengikuti jejak rajanya memeluk agama islam. Telah dimaklumi masyarakat Indonesia memiliki kepatuhan yang tinggi dan seorang raja selalu menjadi panutan bahkan menjadi contoh bagi rakyatnya. Setelah raja dan rakyat memeluk agama islam, maka kepentingan politik dilakukan dengan cara perluasan wilayah kerajaan, yang diikuti dengan penyebaran agama islam. Misalnya, Sultan Demak mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan Fatahillah untuk menguasai wilayah Jawa Barat dan memerintahkan menyebarkan agama islam disana.
4) Pendidikan. Seluruh Da’i, Ulama, guru-guru agama, ataupun para kyai memegang peranan penting dalam penyebaran agama islam dan kebudayaan islam. Mereka menyebarkan islam melalui jalur pendidikan, yaitu dengan mendirikan pondok-pondok pesantren. Pondok pesantren adalah pusat tempat pengajaran agama islam bagi para murid yang di lingkungan pesantren dinamakan santri. Mereka kemudian menyebarkan dan mengembangkan agama islam ke masyarakat, bahkan setiap santri setelah lulus dari pesantren mereka selalu berusaha untuk dapat membangun pesantren sendiri dan juga tempat ibadah sehingga tak asing kita banyak menjumpai pondok pesantren di sekitar kita.
5) Kesenian. Penyebaran agama islam melalui kesenian dapat dilakukan dengan mengadakan pertunjukkan seni gamelan dan Wayang. Cara seperti ini banyak ditemui di jogjakarta, Solo, Cirebon, dan lain-lain. Seni gamelan banyak digemari masyarakat jawa dan ini tentu dapat mengundang masyarakat berkumpul dan selanjutnya dilaksanakan dakwah islam.
6) Tasawuf. Seorang Sufi biasa dikenal dengan hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di tengah-tengah masyarakatnya. Para sufi biasanya memiliki keahlian yang membantu masyarakat, diantaranya ahli dalam menyembuhkan penyakit dan lain-lain. Mereka juga aktif menyiarkan dan mengajarkan ajaran islam. Penyiaran agama islam dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat. Para sufi pada masa itu antara lain Hamzah Fansuri di Aceh dan Sunan Panggung jawa.
7) Kekuasaan politik. Artinya penyebaran islam di Nusantara, tidak terlepas dukungan yang kuat dari para sultan. Di pulau Jawa, misalnya kesultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara, dan para sultan di seluruh Nusantara salain bahu-membahu dan tolong-menolong dalam melindungi dakwah Islam.

MALAYSIA
Malaysia negara yang terletak di wilayah Semenanjung Tanah Melayu merupakan pusat terpenting di Asia Tenggara. Untuk beberapa abad lamanya, negara ini menjadi jembatan dunia perdagangan. Wilayah yang meliputi satu kawasan di bagian selatan Semenanjung ini berbatas dengan Singapura.
Islam merupakan agama resmi Malaysia. Diperkirakan hampir 60.4% masyarakat mengamalkan Agama Islam; 19% Buddha; 9% Kristen; 6% Hindu; dan 3% konfusianisme dan agama tradisonal Cina lainnya. Mazhab Syafi’i merupakan salah satu cabang ajaran utama di Malaysia.
Sekitar abad ke-14 agama Islam masuk ke Malaysia dibawa oleh pedagang dari Arab, Persia, Gujarat, dan Malabar. Di samping itu, ada seorang ulama bernama Sidi Abdul Aziz dari Jeddah yang mengislamkan pejabat pemerintah Malaka dan kemudian terbentuklah kerajaan Islam di Malaka dengan raja pertama yaitu Sultan Permaisuri. Setelah beliau wafat digantikan oleh Sultan Iskandar Syah dan penyiar Islam bertambah maju. Sampai sekarang, perkembangan Islam di Malaysia bertambah maju dan pesat, terbukti dengan banyaknya masjid-masjid yang dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan-penyelenggaraan jama’ah haji yang begitu baik.
Dalam bidang politik pemerintahan, juga terdapat konsepsi dan pemikiran politik yang dipengaruhi oleh ajaran Al-quran. Sehingga tradisi politik melayu yang berbasis Hindu-Budha sebelum kedatangan Islam telah digantikan dengan ide-ide yang diilhami oleh Al-quran dan sumber-sumber sah Islam lainnya.
SINGAPURA
Dalam perjalanan sejarahnya, dahulu Singapura mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Posisi stategis yang merupakan nilai lebih Singapura menjadikannya sebagai transit bagi perdagangan dari berbagai kawasan. Pada sisi lain, selain sebagai transit perdagangan letaknya yang strategis ini juga telah memungkinkannya menjadi pusat informasi dan komunikasi dakwah Islam.
Singapura menjadi sebuah Negara Republik yang merdeka setelah melepaskan diri dari Malaysia pada tanggal 17 Agustus 1965. Saat ini, Singapura merupakan Negara paling maju diantara Negara-negara tetangganya di kawasan Asia Tenggara. Namun demikian, Islam relatif tidak berkembang di Negara ini, baik bila dibandingkan dengan sejarah masa lalunya, maupun bila dibandingkan dengan perkembangan Islam di Negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.
Sejak abad ke-15, pedagang Muslim menjadi unsur penting dalam perniagaan wilayah Timur, tidak terkecuali Singapura. Beberapa diantara para pedagang ada yang menetap, dan menjalin hubungan perkawinan dengan penduduk setempat. Lama-kelamaan mereka membentuk suatu komunitas tersendiri. Para pedagang tersebut tidak jarang menjadi guru agama dan imam. Dalam komunitas Muslim ini juga sudah terdapat sistem pendidikan agama yang bersifat tradisional. Pada umumnya mereka belajar agama dirumah-rumah, yang kemudian dilanjutkan di surau-surau dan mesjid. Pada tahun 1800 di kampong Glam dan kawasan Rocor menjadi pusat pendidikan tradisional. Dalam hal ini, guru-guru dan imam sangat penting peranannya dalam memupuk penghayatan keagamaan pada masyarakat Muslim Singapura. Sama dengan Muslim di kawasan Asia Tenggara lainnya, Muslim di Singapura pada masa awal menganut mazhab Syafi’I dan berpaham teologi Asy’ariyah.
Pada abad-19 di kalangan komunitas muslim Singapura juga terdapat kelompok pendatang yang berasal dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Riau, dan Bawean serta kelompok imigran yang berasal dari luar seperti muslim India, dan keturunan Arab khususnya Hadramaut.
Kedatangan imigran secara besar-besaran ini secara tidak langsung telah membuat pelabuhan Singapura berkembang menjadi gerbang ekonomi yang penting di Selat Melaka. Pada abad ke-19 hal ini telah menjadikan kota Singapura selain sebagai sentral ekonomi juga menjadikan Singapura punya peranan penting selain sebagai pusat perdagangan juga sebagai pusat informasi dan dakwah Islam.
BRUNEI DARUSSALAM
Brunei Darussalam adalah wilayah yang terletak di Barat Daya Pulau Borneo (Sabah). Brunei merdeka dari jajahan Inggeris tanggal 1 Januari 1984.
Filosofi politik Brunei adalah penerapan yang begitu ketat terhadap Melayu Islam Beraja (MIB) yang terdiri dari dua dasar yaitu Islam sebagai Guiding Principle dan Islam sebagai Form of Fortification. Dari dua dasar ini kemudian muncul penanaman nilai-nilai keislaman kenegaraan dengan tiga konsep. Yaitu :
1. Mengekalkan Negara melayu.
2. Mengekalkan Negara Islam.
3. Mengekalkan Negara beraja.
Berkaitan dengan masuknya Islam pertama, dapat diketahui berdasarkan bukti sejarah Brunei, yaitu batu di perkuburan Islam Rangas, Tutong Bandar Sri Begawan bertuliskan Cina bernama P’kung Chih-Mu meninggal 1264 M, ia adalah orang Cina yang masuk Islam.
Untuk menunjukkan identitas ideologi negara, sultan dalam beberapa kesempatan mengeluarkan dekrit yang isinya:
1. Membuat garis pemisah antara Islam pribumi dan Islam luar, terutama kaum fundamentalis, termasuk gerakan Al-Arqam dari Malaysia.
2. Sultan mengharuskan warga Melayu mampu membaca al-quran dengan mengeluarkan dana 2 juta dolar Brunei untuk merealisasikan kebijakan ini.
3. Memerintahkan pentingnya pengajaran bahasa Melayu dalam aksara jawi, agar masyarakat memahami hubungan antara bahasa melayu dengan warisan budaya Islamnya.
4. Tahun 1991 didirikan tabungan Amanah Islam Brunei (TAIB). Lembaga keuangan yang didasarkan syariat Islam guna mendukung investasi dan perdagangan meliputi bursa dan pasar uang serta pembangunan ekonomi atau industri di dalam dan luar negeri.
5. Pemerintah juga melarang jual beli minuman keras di toko-toko atau hotel, dan tempat lain.
Dakwah islamiyah secara resmi dikembangkan oleh Negara, bersaman pembangunan Universitas, negara juga membangun Pusat Dakwah Islamiyah yang megah dengan fasilitas yang serba modern dan canggih, sehingga pertemuan Menteri-menteri Pertanian ASEAN pernah berlangsung di gedung Pusat Dakwah ini.
Televisi dan Radio Brunei memberikan porsi yang amat besar terhadap siaran agama Islam yang di asuh oleh tenaga-tenaga terampil, baik pesanan dari luar ataupun putra Brunei sendiri yang sudah di apgret di Cairo dan negara-negara Timur Tengah lain. Hampir tiap tahun sejak 1978 tidak kurangdari 5 orang putra Brunei yang belajar pada Akademi Iman, Khattib dan Wa’azh yang di kelola oleh Darul Ifta’ Mesir di Cairo. Di samping itu rata-rata 20 orang mahasiswa/mahasiswi Brunei yang menggeluti ilmu pengetahuan di berbagai Perguruan Tinggi yang ada di Mesir, terutama di Al-Azhar yang amat terkenal itu.
Menyedari adanya angin beracun Orientalisme dan faham-faham sesat lainnya yang akan menyusup untuk mengoyahkan keimanan dan keyakinan rakyat Brunei terhadap agamnya, pada bulan November 1987 yang lalu, Sultan Brunei dalam sebuah pidato, yang diulangi kembali pada pidato ultahnya pada bulan Januari, dimana beliau memperingat masyarakat terhadap munculnya ajaran yag merusak faham agama dan menganjurkan agar masyrakat berjaga-jaga terhadap faham pelampau (ekstrem) itu. Aliran dan faham ini yang baru saja dibekuk dan perkumpulannya di bubarkan pada bulan Februari yang lalu itu.
THAILAND
Dari sisi sejarah, berkembangnya Islam di Thailand sudah sejak abad ke-12 M yang berakar dari kesultanan Pattani. Masyarakat Melayu-Muslim Pattani hingga sekarang tinggal di empat provinsi di Thailand bagian Selatan, yaitu Pattani, Yalla, Naratiwat, dan Setul. Sebagian muslim lain juga mendiami Provinsi Songkla. Seluruh provinsi yang mayoritas muslim ini dulunya adalah termasuk wilayah Kesultanan Pattani abad ke-17 dan 18.
Dalam realitas kultural, ketika proses integrasi berlangsung, umumnya masyarakat muslim Pattani lebih suka bergabung dengan Malaysia. Hidup di bawah pemerintahan Muangthai yang agama negaranya adalah agama Buddha, mereka merasa diperlakukan tidak adil sebagai kelompok minoritas. Ketika pemerintah Thai mencopot kaum bangsawan Pattani dari kekuasaannya pada jabatan-jabatan penting di wilayah provinsi yang mayoritas muslim itu, dan menggantikannya dengan birokrat dari Bangkok atau provinsi Bagian Utara. Disamping itu, proses asimilasi dan akulturasi yang dipaksakan oleh Pemerintah Thai kepada Muslim Pattani dianggap oleh masyarakat muslim dalam rangka langkah strategis mengeliminasi budaya melayu yang identik Islam melekat bagi penduduknya.
Pada tahun 1950-an pemerintah membuat kebijakan baru dalam menindaklanjuti proses integrasi. Bidang pendidikan, pemerintah thai mengintervensi dalam pengaturan pondok pesantren tidak dapat dielakkan. Program perbaikan pondok dimulai dengan menawarkan bantuan keuangan. Tahun 1961-1966 di Pattani Raya terdapat 287 dari keseluruhan 486 pondok Pesantren ikut berpartisipasi dalam program ini. Namun para ulama pimpinan pondok mau mendaftarkan hanya sebatas mengharapkan bantuan. Dengan persyaratan mengubah kurikulum sesuai dengan pendidikan nasional, akhirnya para ulama menolak. Penolakan itu mengakibatkan pemerintah Thai mengancam kepada ulama dengan melarang menyelenggarakan pendidikan di pondok pesantren, karena dianggap melanggar hukum. Akibat ultimatum ini, para ulama kebanyakan terpaksa memberikan dukungan simbolis melalui pendaftran “partisipasi terbatas” dengan harapan nantinya bisa disusun kembali kurikulum yang mampu mengurangi intervensi dari pemerintah.

PHILIPINA
Islam masuk ke wilayah Philipina Selatan khususnya kepulauan Mindanao dan Sulu pada tahun 1380 M. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Syarif Aulia karim Al Makhdum dan Raja Baginda tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan Islam di kepulauan tersebut.
Dilihat dari segi politik, politik Philipina bergeser ke arah yang banyak melibatkan peran gereja yang berujung pada proses Kristenisasi di basis wilayah Melayu Muslim Moro. Fusi antara lembaga pemerintahan transisi dengan gereja ini, walaupun tidak nyata secara struktual, namun nampak bagaimana gereja katolik telah banyak memainkan peran politik dengan mengatanamakan integrasi nasional.
Kebijakan pemerintah Philipina dari periode satu dengan yang lain pada dasarnya tidak berubah, yaitu: Pertama, pemerintah masih memegang pandangan colonial yaitu “Moro yang baik adalah Moro yang mati”. Kedua, kaum muslim adalah penghambat pembangunan. Keempat, masalah mengintegrasikan mereka dalam arus utama di tubuh politik nasional.
MYANMAR
Islam sampai ke Myanmar melalui banyak jalan. yaitu, para pedagang arab muslim menetap di garis pantai selama abad pertama hijriyah (ke 7 M) atau sesudahnya, mula mula di atas pantai Arakan, dan kemudian ke selatan. Kemudian disusul oleh komunitas india dan malaysia (melayu) yang telah efektif dalam menyebarkan agama islam. Akhirnya para pengungsi dari Yunnan di abad sembilan belas menetap di bagian utara negeri itu.
Suatu negara muslim pada saat itu didirikan di Arakan ketika sultan bengal yang Muslim Nasiruddin Mahmud Shah (1442-1459 M) membantu raja Sulaiman Naramitha membangun negara Mrauku yang muslim.
Pemerintahan muslim berlangsung beberapa abad di Arakan dan meluas ke selatan sejauh Moulmein selama pemerintahan Sultan salim Shah Razagri 91593-1612 M). Pada saat itu bahasa Persia merupakan bahasa negara bagu negara muslim Arakan. Ibukotanya Myohaung.
Pada 1784 Myanmar yang pengikut budha menaklukan negara muslim, diikuti antara 1824 dan 1826 oleh Inggris. Maka pada saat Myanmar merdeka pada 1948, Arakan dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan negara Myamnar.

WILAYAH INDOCINA
Pada abad pertengahan, Indocina dibagi kedalam tiga kerajaan: Annam (Vietnam sekarang), Kampuchea dan Champa. Annam terdiri hanya dataran Tonkin Utara, yakni delta sungai merah. Annam adalah negara buddha. Sementara Kampuchea adalah wilayah kerajaan Hindu yang memiliki wilayah lebih luas daripada yang dimiliki oleh negara Kamboja dewasa ini. Sementara bagian tengah dari Vietnam sekarang, pada waktu itu adalah wilayah kekuasaan Champa.
Wilayah ini pernah mengalami suatu fase yang memerankan peranan penting dalam perkembangan islam, khususnya di wilayah indocina, baik menyangkut politik maupun ekonomi. Dominasi kaum muslim dalam perdagangan dan upaya penyiaran islam yang amat gencar dilakukan di daerah ini telah membantu menfasilitasi naik pamornya kelompok muslik di Indocina terutama yang berpusat di wilayah kerajaan kampuchea. Di antara wilayah-wliayah indocina lainnya seperti vietnam dan laos, wilayah Kampuchea memiliki peranan dan pengaruh kaum muslim lebih besar, karena beberapa abad sebelumnya di Champa, yang kemudian bergabung dengan kerajaan kampuchea pernah terdapat kesultanan Muslim.
Penduduk muslim kampuchea, sebagaimana kaum muslim lainnya bersifat kosmopolitan. Mungkin karena faktor inilah yang kemudian menjadikan penguasa kampuchea masuk islam di awal abad ke 17.
Mayoritas muslim di wilayah ini berasal dari etnis Cham. Sulit dipastikan kapan cham mulai mengenal al Qur’an. Islam memasuki masyarakat Champa diperkirakan pada periode dinasti Zoong di China (960-1280 M). Komunitas muslim cham sudah ada pada abad ke X.
Tampaknya melalui hubungan dengan orang-orang melayu lah Cham menjadi muslim. Setelah kejatuhan negeri pada tahun 1470 oleh kerajaan Annam yang agresif dan selalu melakukan ekspansi dan mengambil seluruh wilayah kerajaan Champa, menyaksikan sebagian komunitas mereka mengungsi ke Kampuchea, dimana mereka semua adalah muslim.
Maka kerajaan Champa ini memiliki pertalian dengan negara Hindu jawa dan malaka. Ketika wilayah ini dikuasai oleh Annam dan ditawarkan memasuki agama islam, memeluk islam secara masal. Hingga akhirnya seperti dijelaskan sebelumnya melakukan emigrasi ke wilayah Kampuchea dan sempat sukses membawakan agama islam kepada elit penguasa kerajaan kampuchea.

BAB III
KESIMPULAN

Al-attas merangkum beberapa teori yang diajukan oleh sarjana barat tentang cepatnya Dakwah Islam diterima di kawasan asia tenggara, teori-teori itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
(1) Faktor perdagangan membawa Islam ke kepulauan ini.
(2) Faktor pedagang-pedagang, pegawai-pegawai yang kawin dengan penduduk lokal (bukan Islam), faktor ini dipandang lebih mudah terjadinya proses pengislaman di kalangan masyarakat.
(3) Faktor permusuhan antara orang-orang Islam dengan Kristen yang mempercepat penyebaran islam, terutama pada abad ke-15 dan ke-17.
(4) Faktor politik yang dianggap sebagai motif dan mudahnya penyebaran islam.
(5) Faktor penghargaan nilai ideologi Islam dianggap lebih rasional bagi memeluknya.
“Islam datang” ke Asia Tenggara menurut S.M.N. Al-Attas, Fattimi, Hasyimi, dan Hamka pada abad ke-7 dan 8 M. “Islam berkembang” abad ke 13 M ke sebahagian wilayah nusantara. Sedangkan “Islam menjadi kekuatan politik” memasuki pada abad ke-15 M setelah tumbangnya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Namun yang patut menjadi perhatian di sini bahwa perkembangan Islam di sebagian wilayah daratan Asia besar seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam tidak sebagus wilayah Asia Tenggara lainnya yang menunjukkan perkembangan pesat. Hal sebaliknya terjadi pengikisan dan penghilangan Islam secara halus di daerah tersebut, saat ini terbukti dengan adanya diskriminasi terhadap penduduk muslim Pattani di Thailand dan Myanmar khususnya, yang perlu perhatian dan tindakan seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia.
>REFERENSI

http://ms.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Asia_Tenggara
http://www.segenggam-harapan.com/2012/06/sejarah-kebangkitan-islam-di-asia.html
http://cerminsejarah.blogspot.com/2010/03/penyebaran-islam-di-daratan-asia.html
http://cikguazid.com/nota-sejarah-ting-4/bab-7-islam-di-asia-tenggara/
http://ats-tsiqah.blogspot.com/2011/11/sejarah-islam-asia-tenggara.html
 H. Uka Tjandrasasmita Ensiklopedi Tematis Dunia Islam ASIA TENGGARA jilid 5, PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE, Hal 9.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: