Tugas UAS ILMU DAKWAH

Dosen : Dr. H. M Tata Taufik, M. Ag.

Urgensi Ilmu Dakwah Bagi Para Da’i

Pengrtian dakwah secara singkat adalah menyeru kepada Allah, yang maksudnya adalah menyeru kepada agama Allah yakni Agama Islam. Sebagaimana orang yang melakukan seruan kepada agama disebut da’i. Dalam melakukan kegiatan dakwah tentunya seorang da’I harus dan dituntut untuk mempunyai ilmu, mengingat seorang juru dakwah harus memiliki kecakapan dan keahlian (ilmu) dalam rangka menyampaikan islam kepada umat manusia, mengajarkan, serta mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Seperti halnya Nabi Muhammad dalam menyeru umat manusia kepada islam telah dibekali dengan ilmu, keyakinan, serta dalil-dalil yang kuat sehingga mampu mengislamkan bangsa Arab yang terkenal keras itu atas izin Allah.. Firman Allah dalam surat yusuf ayat, 108 :

“ Katakanlah, inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik’
Firman-Nya “manittaba’ani” ‘athof atas dlomir “ad’u ilallahi” dalam hal ini mengisyaratkan bahwa pengikut Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah para da’i yang menyeru kepada Allah Ta’ala. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya agar menyampaikan kepada manusia bahwa inilah jalannya. Yaitu, thariqah (cara) dan sunnahnya, adalah dakwah kepada persaksian “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya”, menyeu kepada Allah Ta’ala berdasar ilmu, keyakinan serta burhan (dalil naqli dan ‘aqli).

Mengingat fungsi dan peran dakwah yang demikian penting dan menentukan, maka dakwah dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya harus dipahami secara tepat dan benar, sejalan dengan ketentuan al-Qur’an, sunnah rasul, dan, siroh nabawiyah yang berisikan petunjuk bagaimana dakwah itu dilakukan, sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang istiqomah dan tangguh dalam menyeru manusia kepada Agama Allah; serta mampu melahirkan tatanan hidup masyarakat yang Islami. Disinilah letak perlunya seorang da’i untuk mengetahui dan mempelajari Ilmu Dakwah. Yakni Ilmu yang berisikan kumpulan kaidah-kaidah dan pokok-pokok ajaran yang digunakan untuk menyampaikan Islam, mengajarkan ajaran Islam serta mengamalkannya dalam kehidupan nyata, juga tununan dan cara-cara bagaimana seharusnya seorang da’i menarik perhatian orang lain untuk menganut, menyetujui, dan melaksanakan ajaran agama Islam . Maka dengan mempelajari ilmu Dakwah seorang da’i diharapkan mengetahui hakekat konsep dakwah Islam yang semestinya; mengetahui ayat-ayat atau hadits Nabi SAW yang bertemakan dakwah; mengetahui berbagai metode dakwah dan perkembangannya; menjalankan kegiatan dakwah dengan memperhatikan metode dan tehnik dakwah yang tepat untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Dan tentunya dengan mengetahui ilmu dakwah seseorang da’i akan lebih mudah dalam melakukan dakwah yang efektif dengan tujuan utama demi mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat melalui penyebaran dan pengamalan ajaran agama islam.

Dasar-Dasar Dalam Berdakwah

Yang menjadi dasar utama seseorang berdakwah adalah Al-qur’an. Ini karena Alquran itu sendiri merupakan sumber utama ajaran Islam. Sebagaimana Al-Qur’an sering disebut kitab dakwah. Artinya ia menjadi sumber dasar dan referensi otentik tentang keapaan dan kebagaimanaan dakwah. Tentang posisi Al-Qur’an sebagai kitab dakwah ini, Sayyid Qutub menulis: “Al-Qur’an merupakan kitab dakwah. Yang memiliki ruh pembangkit. Yang berfungsi sebagai penguat. Yang berperan sebagai penjaga, penerang, dan penjelas. Yang merupakan suatu undang-undang dan konsep global. Dan merupakan tempat kembali satu-satunya bagi para penyeru dakwah dalam mengambil rujukan—dalam melakukan kegiatan dakwah, dan dalam menyusun suatu konsep gerakan dakwah selanjutnya.” Al-Qur’an menyentuh banyak aspek yang berkaitan dengan kebutuhan dan kewajiban manusia untuk berdakwah. Dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber inspirasi dakwah sehingga ia menjadi dasar utama seseorang dalam berdakwah. Seperti halnya ayat al-qur’an berikut:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS: Ali Imron ; 104)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa diantara orang mukmin harus ada yang menyeru kepada kebaikan serta mencegah yang munkar yang mana ini merupakan pondasi dakwah itu sendiri. Di dalam tafsir Jalalain kata min yang terdapat pada ayat ini menunjukkan “sebagian dari kalian” karena apa yang diperintahkan karena apa yang diperintahkan itu merupakan fardlu kifayah yang tidak mesti bagi seluruh umat dan tidak pula layak bagi semua orang, misalnya orang yang bodoh. Kemudian juga firmann-Nya :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl : 125)
Ayat ini menjelaskan tentang perintah untuk berdakwah yang disertai dengan metode-metode terbaik dalam berdakwah. Yakni dengan hikmah, mau’idzoh hasanah, serta mujadalah hasanah. Dan masih banyak ayat-ayat lain yang dijadikan dasar dalam berdakwah

Kemudian yang menjadi dasar berdakwah selanjutnya adalah al-Hadits (As-Sunnah), Menurut istilah ulama ahli hadis, hadis adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (taqrîr), sifat jasmani atau sifat akhlak, perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi dan terkadang juga sebelumnya. Sehingga, arti hadis di sini semakna dengan sunnah. Hadis sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum di bawah Al-Qur’an menjadikannya dasar kedua setelah Al-Qur’an dalam berdakwah. Seperti halnya hadits Nabi SAW berikut;
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَة
“Sampaikanlah apa-apa dariku walau hanya satu ayat.( HR :Bukhari)”

Selanjutnya yang menjadi dasar sesorang dalam berdakwah adalah dengan mengetahui sirah nabi Muhammad Saw. Yakni dengan cara mengetahui mengetahui perjuangan Rasulullah SAW. Dalam menegakkan amanat risalahnya, mengetahui prinsip dan langkah-langkah perjuangannya, Juga dengan mempelajari metode atau tekhnik apa saja yang digunakan Nabi dalam berdakwah semasa hidupnya. Semuanya itu merupakan dasar- dasar utama bagi seseorang dalam berdakwah. Ini penting karena Nabi Muhammad sendiri adalah contoh paling ideal bagi para da’i yang menyeru kepada agama Allah.

Kemudian sirah sahabat, yakni dalam rangka melihat berbagai cara mereka dalam menyembarkan agama Islam. Meliputi Sirah Khulafa’ Rosyidiin ,Abu Bakar, Umar ibn Khatab, Utsman bin Affan, Ali ibn Abi Thalib beserta para shahabat lainnya yang dekat dengan dengan Rasulullah, sebagai rijal ad-da’wah dan figur-figur hasil binaan, gemblengan dan kaderisasi Rasulullah SAW . Dalam mengemban risalah dakwahnya, mereka berpegang pada prinsip dan kaidah yang telah digariskan Rasulullah SAW, dan dikembangkan serta diorientasikan pada persoalan dan tantangan yang dihadapi setiap zamannya. Dengan mengetahui sirah para sahabat tersebut maka berbagai cara dan strategi yang dilakukan mereka dapat dijadikan dasar dalam berdakwah demi memecapai kesuksesan dakwah itu sendiri

Kemudian dapat dijadikan seseorang dalam berdakwah adalah dengan mengetahui peristiwa-peristiwa yang menyertai para ulama dalam menyebarkan agama Islam di masa lampau. Yakni dengan cara mengetahui bagaimanakah langkah-langkah strategis mereka dalam menyebarkan agama Islam juga dengan mengkaji kejadian-kejadian apa saja yang mereka hadapi serta siasat menanggulanginya dalam rangka dakwah islamiyah sehingga Agama Islam yang mereka sebarkan sampai pada kita sekarang ini.

Dakwah Di Era Globalisasi (Saran dan masukan untuk Para da’i Kontemporer)

Era globalisasi adalah merupakan hal yang netral. Artinya perkembangan tersebut dapat dilakukan kejalan yang baik tidak terkecuali dalam pengembangan dakwah. Namun dapat juga berdampak negatif jika perkembangan tersebut tidak disikapi dengan sebaik mungkin. Menyendiri atau lari dari globalisasi bukanlah solusi yang terbaik, tapi bagaimana memanfaatkan berbagai fasilitas yang ditawarkan oleh era globalisasi ini ke jalan yang baik sesuai dengan tuntunan dan ajaran islam. Melihat kenyataan hidup di era globalisasi sangat penuh tantangan karena persoalannya tidak sederhana bahkan semakin kompleks. Kenyataan hidup tersebut sangat mendambakan “juru selamat” yang dapat merubah mereka menuju kehidupan yang penuh kedamaian, ketentraman lahir dan batin. Masyarakat perlu dibentengi dengan nilai-nili islam, sehingga nilai tersebut dapat melembaga dalam dirinya, dan tidak mudah goyah dengan berbagai fenomena kemodernan yang sangat menantang ini. Setiap muslim berkewajiban untuk menyampaikan pesan dakwah kapanpun dan dimanapun sebagaimana Hadits Nabi, ”sampaikanlah olehmu dariku, walaupun hanya satu ayat”. Esensi hadits tersebut adalah ajakan kepada setiap Muslim agar senantiasa menyempatkan diri untuk berdakwah melalui berbagai media. Aktualisasi peran dakwah setiap muslim ini menjadi sangat terbuka dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, yaitu dengan memanfaatkan multimedia sebagai wahana Dakwah. Globalisasi sendiri sebenarnya sejalan dengan dengan ajaran agama Islam, ajaran atau agama yang diturunkan sebagai rahmat alam semesta. Jika globalisasi digunakan untuk menduniakan nilai-nilai moral islami, baik yang bersifat personal (personal morality) maupun yang public (public morality), maka kehidupan umat manusia di dunia ini dapat berjalan dengan tertib, aman, damai dan sejahtera . Dan menurut Yusuf Qardhawi, bahwa Globalisasi atau al-‘ālamiah yang dipahami oleh Islam adalah sesuatu yang berasaskan nilai-nilai penghormatan dan persamaan kepada seluruh manusia, Seperti dalam firman Allah swt dalam (QS. Al-Isra: 70)

“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautanKami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Artinya bahwa setiap manusia memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dihadapan Allah swt. Namun disamping itu sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa era globalisasi telah menghadirkan dua hal, yaitu antara harapan dan tantangan . Yakni harapan supaya membawa umat manusia ke arah yang lebih baik juga tantangan bagaimana manusia mewujudkan itu semua. Dalam kepentingan dakwah Islamiyah, para da’i hendaknya menguatkan dakwah Islam baik dari segi materi, pesan yang disampaikan maupun metode yang digunakan. Dakwah Islam tidak boleh hanya menyentuh kulit-kulit ajaran semata, tetapi juga masuk ke inti dan esensi ajarannya. Karena ajaran Islam bersifat komprehensif maka dakwah Islam pun harus bersifat komprehensif. Pemahaman dan penerapan agama secara parsial meyebabkan kekuatan agama ini tidak kelihatan bahkan tidak efektif. Untuk itu, metode dakwah harus diperbarui sesuai dengan perkembangan zaman. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dakwah tidak boleh terbatas hanya menggunakan media tradisional (mimbar/podium) saja tapi juga dengan menggunakan multimedia yang ada.

Globalisasi memang menjadi lokomotif perubahan tata dunia yang tentu saja akan menarik gerbong-gerbongnya yang berisi budaya, pemikiran maupun materi. Ada beberapa dampak negatif globalisasi yang digulirkan oleh dunia Barat yang rawan mempengaruhi kehidupan seorang muslim, dan sekaligus menjadi tantangan dakwah di era globalisasi, yaitu: Pertama, adalah kecenderungan maddiyyah (materialisme) yang selalu kuat pada zaman sekarang ini. Kedua, adanya proses atomisasi, individualistis. Kehidupan kolektif, kebersamaan, gotong royong, telah diganti dengan semangat individualisme yang kuat. Ketiga, sekulerisme yang senantiasa memisahkan kehidupan agama dengan urusan masyarakat, karena agama dinilai hanya persoalan privat antar individu semata. Dan keempat, munculnya relativitas norma-norma etika, moral, dan akhlak. Sehingga dalam suatu konteks masyarakat yang dianggap tabu bisa saja dalam konteks masyarakat yang lain dianggap boleh. Orang orang yang demikian kata Ali Syari’ati sebagaimana yang dikutip oleh Ari Ginanjar Agustian mengatakan bahwa bahaya yang paling besar yang dihadapi oleh umat manusia zaman sekarang ini bukanlah ledakan bom atom, tetapi perubahan fitrah. Unsur kemanusiaan dalam dirinya sedang mengalami kehancuran sedemikian cepat, inilah mesin-mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah.

Ada beberapa hal penting yang harus diorganisir oleh da’i dalam memfilter trend masyarakat global yang negatif, seiring dengan perkembangan dan trend masyarakat dunia serta masalah manusia yang semakin kompleks, yaitu; 1) Perlu adanya konsep dan strategi dakwah yang tepat untuk membentuk ketahanan diri dan keluarga melalui pengefektifan fungsi nilai-nilai agama, karena dengan dasar agama yang kuat dapat dijadikan filter pertama dan utama untuk menghadapi berbagai trend budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, 2) Mempertahankan nilai-nilai budaya luhur yang dapat melestarikan tradisi positif yang pada dasarnya tidak bertentangan dengan paham dan ajaran agama (Islam) yang menanamkan nilai-nilai baik dan suci, Adapun operasionalisasi yang dapat dilakukan oleh seorang da’i di era globalisasi (selaku da’i kontemporer) sekarang ini diantaranya adalah sebagai berikut: a) Dakwah bi al-kitabah yaitu berupa buku, majalah, surat, surat kabar, spanduk, pamplet, lukisan-lukisan dan sebagainya, juga dengan menggunakan dunia maya/internet sebagai media dakwah; b) Dakwah bi al-lisan, meliputi ceramah, seminar, diskusi, khutbah, saresehan, obrolan, dan sebagainya, dan; c) Dakwah bi al-ha l (bis suluk), yaitu berupa prilaku yang sopan (qudwah hasanah) sesuai ajaran Islam, memelihara lingkungan, dan lain sebagainya.

Dalam rangka keberhasilan dakwah di era global, maka diperlukan da’i yang memiliki profil berikut ini, yaitu: memiliki komitmen tauhid, istiqamah dan jujur, memiliki visi yang jelas, memiliki wawasan keislaman, memiliki kemampuan memadukan antara dakwah bi al-lisan dengan dakwah bi al-hal, sesuai kata dengan perbuatan, berdiri di atas semua paham dan aliran, berpikir strategis, memiliki kemampuan analisis interdisipliner, sanggup berbicara sesuai dengan kemampuan masyarakat. Dan seorang da’i yang baik adalah yang bertemu dalam dirinya kapasitas seorang aktor, seorang ilmuan, dan sekaligus sebagai pendidik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: