Preman Yang Bukan Preman

Malam menjelang selesainya pelatihan di salah satu pondok ternama di Jakarta Selatan, saya melangkahkan kaki keluar kampus. Buat perokok aktif seperti saya, terlalu menyiksa rasanya kalau tidak merokok sehari saja. Maklum peraturan pondok itu tidak memperkenankan siapapun untuk mengotori lingkungan Pesantrennya dengan asap rokok, bagus sih, tapi menurut saya ya relatif laah.
Sambil mendengarkan music dengan headset yang menempel di kedua telinga, saya duduk dan menyalakan LA saya. Mungkin Enjoying Music sambil bermain asap disamping jalan merupakan salah satu cara menghilangkan kepenatan selama mengikuti pelatihan tersebut. Mendengarkan orang-orang Arab asli berbicara bahasa Arab memang lebih sulit dipahami dari pada orang Indonesia yang berbicara bahasa Arab. Faseh dan cepat sekali. Tapi entah kenapa tiba-tiba malam itu saya memang ingin keluar dan duduk-duduk disamping jalan sambil menyaksikan lalu lalang kota Jakarta yang tak kenal diam itu.
Perut saya pun keroncongan, kemudian saya memesan nasi goreng yang ada di depan kampus. Walaupun setengah jam kemudian baru tersaji tapi demi memenuhi kebutuhan jasmani saya rela nunggu. Di sela-sela menikmati nasi goreng, mata saya tertuju pada sosok pemuda – entah berapa umurnya – yang tak sengaja saya perhatikan selalu nongkrong di dekat grobak nasi goreng tersebut. Tatap matanya tajam, perawakannya sedang, bagi orang baru seperti saya mungkin pasti agak takut, Setiap malam dia selalu berdiri di tengah jalan untuk meminta uang keamanan dari tiap truk-truk yang melalui jalan itu, dan tak sedikit para sopir truk-truk tadi yang memberinya upeti. “Wah ternyata di depan kampus pesantren ada Preman juga ya”, pikirku waktu itu. Terlebih ketika setiap ada sepasang muda mudi berboncengan yang melewati jalan itu pasti selalu dia ganggu, disiuli, diteriaki bahkan.
Nasi goreng tinggal menyisakan satu sendok lagi untuk dilahap habis, dan tiba-tiba mata saya beradu tatap dengan mata pemuda tadi, dan seketika itu pula saya mengalihkan pandangan saya ke arah lain. Entah masih merasa tak nyaman atau mungkin karena rada-rada takut, he he. Sesaat setelah membayar nasi goreng itu, Saya berjalan menuju warung terdekat untuk membeli dua gelas air mineral. Maklum Abang Tukang nasi goreng tidak menyediakan air minum bagi para pembeli yang makan di situ. Setelah mendapat dua buah gelas air mineral, lagi-lagi saya dikagetkan oleh pemuda tadi yang tiba – tiba meminta satu gelas air mineral tersebut. Agak dag-dig-dug- waktu itu, tapi saya memberanikan diri untuk memberinya satu gelas, dan juga memberanikan diri untuk duduk di samping pemuda itu, sembari menawarkan rokok saya yang masih menyisakan 13 batang itu. Terlintas dalam pikiran saya kalau dia pasti akan mengambil satu atau dua batang, atau bahkan lebih, namun ternyata tidak. Pemuda itu menolak rokok yang dengan besar hati saya tawarkan, dengan alasan dia masih punya rokok yang menempel di mulutnya, walaupun tinggal setengah batang lagi. Astaghfirullah, saya telah salah sangka padanya.
Yang lebih mencengangkan lagi ternyata pemuda itu tidak bisa berkomunikasi seperti orang normal, seperti orang pelo, “Bang … ri ..na ?” ucapnya menanyakan asal daerah saya. Sambil mengerutkan dahi mencoba memahami apa yang diucapkannya dengan tersendat-sendat dan tak jelas itu saya menjadi pendengar setianya. Ia bercerita bahwa dia adalah orang asli daerah itu, dia tidak sekolah, namun sering mengantar adiknya ke sekolah, masih mempunyai satu nenek yang ia banggakan, karena nenek kakek lainnya sudah meninggal. Tak berapa lama kemudian saya baru paham, kalau pemuda itu ternyata tidak seperti pemuda normal lainnya. Mungkin bahasa kasarnya dia itu agak- agak lah.
Di balik kekurangan yang ia terpaksa terima itu, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Dia tidak mau meminta atau mengambil atau bahkan mencuri apa-apa yang ia sudah merasa punya, jika sudah merasa cukup ia takkan meminta, tak mau mengambil yang lain walau itu pemberian. “Apa ini yang disebut qona’ah ?” Entahlah namun sikap seseorang yang seperti itu memang sudah jarang lagi saya temukan di sekeliling saya. Mungkin para jendral-jendral polisi yang mengkorup uang Negara trilliunan dan memiliki istri banyak dalam rangka menimbun harta rampasannya itu, mereka harus belajar banyak kepada pemuda yang saya vonis preman tadi. Para elit politik yang berani-beraninya mengkorup uang haram atas nama kitab Suci, dan pejabat-pejabat yang tega menyengsarakan rakyat dengan merampok uang Sapi harus banyak berkaca pada pemuda yang agak-agak tadi. Oh Tuhan terima kasih Engkau masih bisa menghibur kami dengan kearifan dari seorang yang tidak biasa itu, di tengah pesimisme kami terhadap bangsa ini, terlebih para pembesar Negaranya.
Di akhir percakapan kami tiba-tiba pemuda itu bertanya “bang c..we’ nya rang na ?”. Tiba-tiba dalam hati saya tertawa dan sayapun tersenyum seketika sambil menjawab “ Ha , , ha,, ha, , saya belum punya cewe , ,” Ia pun menyela tidak percaya dan bertanya seperti itu berkali-kali. Dan kembali saya jawab dengan jawaban yang sama pula. Sambil bangkit dari duduk dan beranjak menuju kampus saya pun meninggalkan pemuda itu. Dan saya lupa tak sempat menanyakan siapa namanya.
Sebuah catatan
1 hari menjelang Ramadhan 1434 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: